Payudara Luka

26 October 2005

Kenapa harus ASI? Apa sekarang di jaman serba cepat ini ber-ASI masih oke?

Kalau pertanyaan kedua itu ditanyakan pada saya, tentu jawabnya: masih oke, dong. Sedangkan salah satu jawaban saya untuk pertanyaan pertama adalah: alatnya ada di tubuh saya, tentu saya manfaatkan saja. Betul, maksud saya adalah payudara saya. Ciptaan yang demikian indah dengan manfaat besar.

Maka sejak saya tau saya hamil, kami berdua secara naluriah sudah tau bahwa kami akan memberi ASI untuk ananda. Kami tidak perlu diyakinkan dengan segala teori. Entah kenapa rasanya waktu itu tidak perlu pemikiran panjang dan diskusi mendalam mengenai ASI. Saya kira, manusia memang sudah terlahir dengan naluri ini.

Kenapa saya sebut kami? Bukankah yang memberi ASI ‘cuma’ saya? Tadinya saya pikir juga begitu. Saya pikir bagian terbesar yang berkepentingan dengan pemberian ASI adalah saya. Tapi rupanya kalimat itu tidak sepenuhnya benar. Sang Bapak ternyata punya peran besar. Yah, tapi tentu saja ini dengan anggapan bahwa hubungan antara suami-istri baik-baik saja dan komunikasi timbal balik berjalan dengan lancar.

Jadi begini ceritanya. Beberapa hari setelah bersalin, saya harus berpisah dengan suami saya. Masa cutinya habis, sudah harus masuk kantor lagi pada hari itu. Kantornya jauh. Ribuan kilometer dari saya. Saya kuat-kuatkan hati saya. Maklum, bayi pertama. Belum ada pengalaman lahir batin tentang menjadi ibu.

Oke, saya terima saja kenyataan bahwa saya hanya bisa mengandalkan diri sendiri mulai saat itu. Saya harus kuat dan tidak boleh cengeng karena putri saya membutuhkan saya. Syukur alhamdulillah saya tidak harus mengurusi rumah, masakan, dan cucian. Maka perhatian saya cuma untuk putri kecil saya serta memulihkan kekuatan badan setelah luluh lantak akibat persalinan.

Saya kira menyusui itu mudah. Ternyata itu salah. Salah besar. Saat itu buat saya, menyusui adalah sulit. Sangat sulit malahan.

Seminggu pertama, payudara kiri saya mulai menjerit. Perih! Aduh, sungguh saya mulai putus asa. Tapi yang kanan masih oke, tidak ada masalah. Saya masih tenang.

Seminggu kemudian keadaan bertambah buruk. Tangan kanan saya yang tidak biasa menggendong mulai mengeluh. Otot-ototnya jadi kaku. Sakitnya bukan main. Bisa jadi baik cuma setelah berhari-hari rutin dipijat oleh Bapak. Bukan itu saja keluhan saya.

Payudara yang perih jadi tambah perih. Suatu pagi saya menjerit. Ibu saya datang tergopoh-gopoh. Saya dengan ngeri melihat putri saya gumoh. Bukan gumoh biasa, karena warna gumohnya coklat kemerahan. Payudara saya berdarah! Huwaaa… memang sakitnya bukan main.

Saya langsung SMS suami saya, minta ditelpon. Selang beberapa saat kemudian suami saya menelpon. Sejak pertama kali saya mengeluhkan payudara saya yang perih, suami saya sibuk membaca ini itu yang berkaitan dengan keluhan saya lewat internet. Saya ingat waktu itu suami saya sedang berjalan kaki pulang ke rumah ribuan kilometer dari saya, menelpon saya sambil membacakan pemecahan masalah saya yang dicetaknya dari sebuah website. Kesimpulannya cuma satu, saya harus TERUS menyusui walau rasa sakit luar biasa mendera.

Maka, selama beberapa hari saya sambil menangis-nangis menahan sakit, menyusui putri kecil, sekaligus berkirim puluhan-ratusan SMS atau minta ditelpon. Begitu cara suami saya berpartipasi memberikan ASI. Alhamdulillah luka di payudara saya lambat laun mengering dan sembuh.

Alhamdulillah suami saya tetap pada kesepakatan semula untuk ber-ASI. Coba waktu itu saya diberi saran untuk berpindah ke susu kaleng, mungkin saya akan menurut. Fiuh! Nyaris saja.

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://asi.blogsome.com/2005/10/26/kenapa-asi-1/trackback/

  1. sama mbak… tapi bedanya saya mulai berdarah setelah anak saya, humay, usia 9 bulan. itu juga coz dia ngegigit (udah tumbuh 4 gigi) jadi luka sana-sini. duh perihnya bukan main… dan sempat disaranin untuk disapih. tapi kalau liat mukanya dan tangannya yang menggapai2 minta disusuin sama saya, gak tega… sampe nangis saya waktu dia tidur. ibu saya bilang, kalo bangun kasih susu botol aja, tapi naluri saya gak mau dan sambil payudara senut2an saya tetep kasi ASI… saya bilang “bunda sayang kamu” biar pikiran saya gak fokus ke sakitnya payudara.. hiks…

    Comment by verra — 20 December 2005 @ 4:20

  2. Menyusui tidak mudah.
    Dari awal hamil saya sudah niat untuk hanya memberikan ASI untuk anak saya. ternyata setelah melahirkan memberikan ASI tidak semudah impian. 4 jam setelah melahirkan saya langsung memberikan ASI tetapi bayi belum merespon, ini terjadi selama 3 hari. hari ke-5 bangun tidur saya kaget tiba2 ada benjolan besar dikedua ketiak saya. setelah tanya sana sini itu akibat ASI tidak dihisisap/dikeluarkan, dan bisa panas dingin. akhirnya payudara diurut, sakitnya bukan main. syukurlah setelah itu bayi mau menyusui.
    Masalah kedua muncul setelah masa cuti habis. bermodalkan buku, majalah, tabloit mengenai panduan memberikan ASI bagi ibu bekerja saya mencoba memerah ASI, tapi ASI yang didapat hanya sedikit dan sakit. atas saran teman saya ke Carolus. syukurlah sejak itu ASI perah saya banyak dan tidak sakit.
    Untuk puting yang luka ibu saya menyarankan untuk memberikan minyak goreng disekitar luka, ternyata manjur dan reaksinya cepat. bisa juga mengoleskan ASI disekitar puting.

    Comment by ayu agastini — 6 December 2006 @ 4:01

  3. Mbak Ayu Agastini, nanya dong.

    “tapi ASI yang didapat hanya sedikit dan sakit. atas saran teman saya ke Carolus. syukurlah sejak itu ASI perah saya banyak dan tidak sakit.”

    Maksud dikau, ke Carolus ngapain ya? Apakah di Carolus dikau diajarkan bagaimana memerah susu yang tepat supaya banyak dan tidak sakit? Kalo iya, kasih tau dong kemana dan hubungi siapa di carolus. Aku butuh ilmunya juga nih. Thanks mbak..
    -d-

    Comment by dewi — 13 April 2007 @ 3:33

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>