Menyusui Itu Susah, Jendral!
6 December 2005Sewaktu hamil anak pertama, saya malees banget rasanya ikutan kelas-kelas hamil dan pengasuhan anak. Bukannya kenapa-kenapa, lantaran berdomisili di luar negeri, biaya kelas-kelas semacam itu cukup menguras kantong. Lebih baik uangnya dipakai untuk beli kebutuhan bayi. Karena itu, informasi seputar bayi hanya didapat dari buku, internet, dan dari ibu atau saudara. Saya lumayan gugup juga, wong baru anak pertama. Semua informasi dipelajari mendalam mulai dari cara memandikan bayi, membedong, dsb, KECUALI soal menyusui. Kenapa? Soalnya, meskipun saya tahu manfaat ASI sebagai makanan terbaik untuk bayi, waktu itu saya haqqul-yakin kalau yang namanya menyusui itu gampang banget, karena alatnya saja sudah tersedia di dada. Tinggal disodorkan ke bayi, cossss, beres. Tuh, ibu-ibu lain juga kelihatan mudah saja menyusui, gak ada masalah. Makanya, saya lebih konsentrasi untuk belajar yang lain saja.
Ternyata, oh, ternyata, setelah bayi saya lahir, saya baru tahu kalau menyusui itu nggak segampang kelihatannya. Wah, masa-masa itu betul-betul penuh perjuangan, airmata, dan darah.
Berhubung saya mengalami komplikasi melahirkan saya tidak bisa menyusui bayi saya pada hari pertama hidupnya, sehingga oleh RS dia diberi susu botol. Ketika saya mulai menyusui, bayi saya tidak bisa menghisap puting dengan benar, karena keburu kenal puting karet. Ternyata, pelan-pelan hisapan yang salah itu mengelupaskan kulit puting! Mula-mula sih tidak sakit, tapi, hari berikutnya, sakitnya lebiiih parah daripada melahirkan! Pake berdarah pula! Nah, minggu pertama itu tiap sesi menyusui menjadi adegan penuh airmata dan teriakan mengaduh si ibu (yaitu saya). Sang bayi, tenang-tenang saja begitu nyantol ke puting itu. Ibu saya, sampai prihatin banget melihat siang malam penuh ratapan kesakitan. Gak biasanya loh saya mengharu biru begitu, melahirkan aja kuat, kok puting lecet aja sampai berurai airmata. Untung, teman-teman yang menjenguk juga mengerti masalah ini. Kata mereka, “Tunggu aja sepuluh hari, nanti juga sembuh sendiri”. APAAAA? Sepuluh hari? Lama sekali! Saya gak tahu apakah bisa tahan 10 hari dengan rasa sakit seperti itu… aduuh.
Berkat saran teman-teman dan dukungan ibu dan suami, saya berhasil melewati sepuluh hari penuh airmata itu. Saya pikir, mulai dari titik ini, menyusui bakalan gampang saja.
Ternyata, saya salah.
bayi saya, yang berumur tiga minggu, menangis minta susu di tempat tidurnya, pada suatu pagi. Saya terkantuk-kantuk menggendongnya dan menyodorkan puting susu saya. Lho, kok putingnya enggak terhisap, meskipun sudah masuk mulut? Saya coba lagi, tetap sama, putingnya menggelosor keluar meskipun bayi saya megap-megap minta puting. Entah mengapa, sejak saat itu bayi saya kehilangan ‘skill’-nya menghisap ASI. Waaah saya betul-betul panik!
Suami saya saking paniknya sampai ambil cuti kantor hari itu. Pagi itu kita mencoba menyodorkan puting ke bayi saya yang lapar sampai tiga jam. Saya cari informasi ke internet dan buku-buku mengenai kenapa hal ini terjadi. Tetapi tidak ada informasi apa-apa dan tidak ada kemajuan, dia tetap tidak bisa menghisap. Padahal, susu saya banyak sekali, sampai membanjiri lantai dan tempat tidur. Aneh sekali! Saya sampai berdoa, “Tuhan, mendingan saya lecet puting lagi deh dan bayi saya mau menghisap ASI saya, daripada kayak sekarang gak jelas kenapa…” Walhasil saya pun berurai air mata lagi…
Setelah lima jam berjuang dengan puting, saya dengar perut kecilnya keruyukan. Sambil tersedu-sedan, saya coba untuk memompa ASI dan memberikannya lewat botol. Eh, dia minum dengan lahap. Waduh. Saya tambah bingung, apa ini artinya saya harus berhenti menyusui langsung dari payudara? Sedih banget rasanya! Saya teringat kata ibu saya, kalau dipompa terus lama-lama susunya berkurang. Seram deh!
Sampai esoknya, bayi saya tetap tidak bisa menghisap susu. Setelah sejam mencoba menyodorkan puting, dan gagal, akhirnya saya beri susu peras di botol. Saya pikir, “Wah, nggak bisa begini terus, bisa-bisa gagal ambisi untuk ASI eksklusif enam bulan dan bayi saya jadi tergantung pada botol”. Akhirnya saya putuskan untuk mendatangi konsultan laktasi.
Di ruang konsultasi, si ibu konsultan kaget melihat ASI saya yang sampai netes-netes ke lantai. Bu konsultan lantas menyimpulkan bahwa ASI saya terlalu banyak dan terlalu deras sehingga bayi saya tidak bisa mengatasi alirannya ketika dia menghisap. Wah baru tahu saya ada masalah menyusui yang semacam ini.
Sesuai rekomendasi bu konsultan, mulai saat itu saya menyusui sambil terlentang supaya aliran susunya tertahan oleh gravitasi. Wah bener-bener seperti akrobat deh, sebab saya takut bayi saya terguling. Tapi hebat juga ibu konsultan itu, semenjak ganti posisi, bayi saya mulai mau minum lagi. Syukurlah masalah ini selesai. Tentunya habis itu menyusui bakalan jadi masalah gampang.
Ternyata, saya salah.
Habis itu saya kena infeksi payudara. Lantarannya, ASInya terlalu banyak dan bayi saya enggak bisa menghabiskannya, sehingga terjadi peradangan. Panas tinggi dan saya harus bedrest dua hari. Setelah sembuh, eeeh, dua minggu kemudian kena infeksi lagi. Pokoknya, sampai tiga kali saya kena infeksi payudara, yang baru sembuh setelah diberi perawatan khusus. Kalau tanpa dukungan suami, barangkali saya sudah pensiun menyusui, lantaran dihantam ribuan masalah dalam dua bulan pertama umur bayi saya.
Dan menurut ibu konsultan laktasi, semua masalah ini adalah karena ASI saya terlalu lancar dan terlalu banyak! Saya gak tau apa harus ketawa atau menangis atas vonis ibu konsultan. Kok bisa, ya, ASI membuat si ibu sampai sengsara begini. Tapi saya pikir lagi, ah, yang penting, anak saya sehat. Buktinya, kenaikan beratnya di atas rata-rata, meskipun dia cuma minum ASI.
Tapi, selain jadi masalah, syukurlah ASI saya juga membawa berkah buat orang lain. Berhubung produksi pabrik ASI yang berlebihan, lemari es saya penuh dengan ASI beku. Bingung mau diapakan ASI sebanyak ini, akhirnya saya beriklan di mailing list online. Eh, beberapah hari kemudian datanglah seorang ibu dengan kardus gabus panik meminta susu beku saya. Sekitar 40 kantung alias enam liter lebih berpindah tangan dengan sekejap, senangnya saya melihat paras lega si ibu itu, yang akhirnya bisa memberikan ASI lagi pada anaknya.
Pokoknya, meskipun susah, menyusui itu merupakan pengalaman yang tak terbayarkan oleh apapun. Apalagi, mengingat tantangannya yang sedemikan sulit, kalau bisa melewatinya, boleh deh berbangga diri hehehehe

waduh kok sama ama saya ya mba.. dulu saya mikirnya juga gitu. nyusuin mah gampang..tapi ternyata..hiks..dari puting lecet, bayi yg nolak puting karena deresnya aliran asi, sampe hampir kena abses payudara smp panas dingin. penuh perjuangan deh pokonya.. alhamdulillah najwa masih asi eksklusif, sebulan lagi…yuhuuu…
Comment by bunda najwa — 9 December 2005 @ 1:14
Wah… salut atas perjuangannya!! Alhamdulilah dalam proses menyusui saya diberi kemudahan sehingga bisa sukses memberikan ASI eksklusif 6 bln tanpa kesulitan yang berarti dan semoga nanti saya juga bisa memberikannya pada anak kedua saya. Mudah-mudahan pengorbanan ibu dapat menjadi dorongan bagi ibu-ibu yang lain sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. SEMANGAT!!!
Comment by bundaCira — 9 December 2005 @ 6:47
Hebat banget deh mbak ini ASI-nya bisa banyak banget gitu. Makan atau minum apa sih mbak bisa banyak banget produksi ASInya? Anak aku juga masih ASI dan cukup buat dia tapi gak sampai banjir kayak gitu apalagi pas udah masuk kantor, semakin berkurang aja. MInta sarannya ya mbak, thanks.
Comment by Bundanya Harel — 17 February 2006 @ 10:36
Hebat banget deh mbak ini ASI-nya bisa melimpah ruah gitu. Makan dan minum apa sih mbak? Anak aku juga masih ASI ekslusif sih tapi ASI aku gak sampe banjir gitu. Minta sarannya ya mbak…Thanks
Comment by Bundanya Harel — 17 February 2006 @ 10:37
Saya tinggal di Canada dan saya juga mengalami hal yang hampir serupa. Asi saya banyak sedang anaknya minumnya tidak terlalu banyak. Asi hasil pompa mulai memenuhi lemari es. Kalo boleh tahu bagaimana beriklan di Mailing list online? Soalnya sayang juga kalo dibuang.
Comment by lina — 9 May 2007 @ 17:46
Waah, menjadi ibu itu bukannya gampang yaa…. First thing first, ibu kita ini hebat deh atas perjuangannya demi anak tercinta. Bayi saya berat badannya bertambah di atas pertambahan bayi rata2. Itu juga sepertinya karena ASI saya yang lancar2 saja (syukurlah..), dan memang jadi cepat penuh rasanya. Saya juga mo mengingatkan nih,.. karena ada yang request ASI, maka anak orang lain yang minum ASI kita jadi saudara sepersusuan dengan anak kita, dan nantinya (klo anaknya beda jenis kelamin), menurut agama Islam, tidak boleh dinikahkan, karena sudah menjadi saudara. Ada kemungkinan juga dikhawatirkan ada masalah pada keturunannya kelak. Jadi sebaiknya berjaga2, atau berhati2. Mungkin dalam agama lain ada aturan seperti itu ?
Comment by asti — 6 August 2007 @ 4:22
setuju mba.. sulit tapi worth the effort.
udah gitu, pas bayinya udah gede dikit, gigi mulai banyak, menyusui jadi susah karena suka kena gigit huhuhuhu….
ya tinggal kuat2an aja sama anaknya
Comment by dea — 26 December 2007 @ 2:41
asi yang terbaik bwt bayi qt. ocre…………………………………………………….
Comment by nyun — 25 April 2008 @ 3:47