Berat Badan Kurang: Selamat Tinggal ASI?
18 May 2006Beberapa hari lalu saya ditelpon seorang kawan. Intinya kawan ini bingung. Bagai berada di sebuah simpang tiga, ke kanan atau ke kiri. Ke kanan dengan ASI tapi berat badan bayi bertambah begitu-begitu saja, atau ke kiri dengan susu botol anjuran dokter yang menjanjikan pertambahan berat badan yang pesat.
Bayi kawan saya ini pertambahan BB-nya tidak sepeti yang diharapkan. 4 minggu setelah kelahirannya BB bayi hanya bertambah tidak sampai 1,5 kilogram.
Saya tidak akan menyajikan link ke artikel-artikel lain yang akan menguatkan pendapat saya untuk tetap menganjurkan bertahan ber-ASI. Saya cuma akan mengulas beberapa pengalaman dari saya sendiri maupun seorang kawan yang lain.
Putri pertama saya, Hanan lahir normal dengan berat badan 3,2 kilogram. Dengan ASI saja, dalam 1 bulan pertama kehidupannya BB putri saya melambung menjadi 5 kilogram.
Sungguh berlainan dengan putri kedua yang lahir normal juga dengan BB 3,4 kilogram. Putri kedua, Haifa meperoleh perlakuan yang sama, mendapat ASI eksklusif dari saya. Namun bulan pertama dilalui dengan pertambahan BB yang hanya 1 kilogram saja.
Kenapa pertambahan BB Hanan dan Haifa bisa begitu berbeda? Saya curiga jawabannya cuma satu, perbedaan metabolisme tubuh.
Saya juga akhirnya berkesimpulan bahwa kemajuan pertumbuhan bayi tidak hanya diukur dari pertambahan BB. Hal ini dikuatkan dengan pengalaman seorang kawan lain yang bersalin nyaris berbarengan dengan saya. Sebut saja nama anak kawan saya ini adalah Sigit. Sigit yang umurnya hanya berbeda beberapa hari saja dengan Hanan, juga mengalami pertambahan BB yang minim. Walau demikian ibunda Sigit kukuh bertahan hanya memberi ASI secara eksklusif selama 6 bulan untuk Sigit, dan terus sampai umur 2 tahun.
Waktu Sigit dan Hanan berumur 1 tahun, kami bertemu. Secara fisik, pertumbuhan Sigit kalah jauh dari Hanan. Tinggi badan, BB, pertumbuhan gigi, Hanan selalu lebih unggul dari Sigit. Menariknya, Sigit sangat pesat kemajuannya di bidang kemampuan bicara. Kemampuan gerak Sigit juga sangat normal, ketrampilan tangannya untuk menggenggam benda kecil terasah pada waktunya. Duduk, merangkak, berjalan juga rata-rata terjadi pada waktu yang diharapkan.
Jadi waktu akhirnya Haifa lahir dan pertumbuhan fisiknya tidak sepesat Hanan, saya tidak terlalu kuatir. Saya lihat pada umur 1 sampai 2 bulan perkembangan geraknya juga bagus. Bahkan lebih cepat dari Hanan pada beberapa bidang seperti membalikkan badan dan tertawa tergelak-gelak kalau diajak bercanda.
Maka saya tetap yakin bahwa dengan ASI eksklusif, Haifa sudah mendapatkan makanan lahir dan batin yang baik. Alhamdulillah, sekarang Haifa sudah 2 tahun lebih. Tinggi badannya rata-rata saja, dan berat badannya sejak umur 1 bulan selalu sedikit di bawah kurva rata-rata batita seumurnya. Tapi secara umum Haifa tumbuh sehat, walau sesekali sejak umur 9 bulan terkena pilek dan batuk.
Berdasarkan pengalaman di atas, saya menyarankan kepada kawan saya untuk tetap bertahan dengan ASI. Tapi rupanya masih ada alasan lain kenapa kawan saya ini mempertimbangkan penambahan susu formula kalengan untuk bayinya. Kawan saya ini merasa capek karena sang bayi kalau menyusu bisa 2 jam. Hmmmm… kalau masalahnya seperti ini, saya juga tetap akan menyarankan untuk ber-ASI eksklusif. Soalnya, dulu Hanan kalau menyusu pun bisa berjam-jam

Saya umi dari Ameera (2 th) dan Ameer (3 bln), saya juga masih menyusui ketika saya hamil yang ke dua. Membaca kisa ibu mirip sekali dengan saya.. Alhamdulilah keduanya sehat walafiat.. Malah anak yang kedua ini saya masih bisa memberi ASI ekslusif meskipun saya bekerja..
Senang dan puas rasanya.. ASI is the best…
Comment by lulu — 19 June 2007 @ 7:23