Menyusui Di Tempat Umum
19 May 2006Di Singapura, sungguh jarang saya temui ibu memberikan ASI pada bayi kecilnya di dalam kereta listrik atau bis umum. Kemungkinannya ada beberapa:
[1] tidak banyak orang yang membawa bayi kecil naik angkutan umum,
[2] lebih ekstrim lagi, tidak banyak bayi kecil di Singapura [berhubung isu tingkat kelahiran yang rendah],
[3] kebanyakan yang punya bayi adalah mereka yang tidak perlu lagi bepergian dengan angkutan umum: kemungkinan sudah punya mobil pribadi,
[4] waktu perjalanan dengan angkutan umum yang cukup singkat [dari ujung pulau satu ke ujung lain bisa ditempuh dalam kurang dari 2 jam], sehingga bayi tidak perlu minum ASI,
[5] kesadaran memberi ASI yang rendah, rata-rata bayi kecil yang saya lihat di angkutan umum diberi susu dari botol yang saya sungguh yakin isinya bukan ASI peras.
Di sisi lain, saya kenal banyak teman yang ternyata adalah para ibu yang tidak peduli di mana pun kapan pun selalu bersedia memberi ASI bilamana diperlukan. Bagaimana mereka bersiasat supaya urusan persusuan ini berjalan dengan lancar?
Biasanya mereka akan menyusun rencana sebelum bepergian. Bila tujuan ke pusat perbelanjaan, dicarilah gedung yang mempunyai ruang bayi yang nyaman dan bersih. Rata-rata gedung belanja di jalan Orchard memenuhi syarat ini. Kamar menyusui di Takashimaya mungkin adalah salah satu yang terbaik. Demikian juga yang terletak di Forum the Shopping Mall yang merupakan kamar menyusui favorit saya karena alasan kenyamanannya.
Seiyu Bugis, Novena Square, Robinson City Hall, semuanya mempunyai ruang menyusui yang bersih dan nyaman. Jadi jangan kuatir kalau anda sedang bepergian dan tetap ingin menyusui.
Nah, tiba-tiba ananda menangis minta ASI di tengah perjalanan, bagaimana mengatasinya? Kalau sarana bepergiannya adalah taksi, maka kemungkinan tidak akan menemui halangan bila harus segera menyusui. Tetapi jika angkutan umum yang dipakai adalah bis atau MRT, biasanya para ibu gesit ini berbekal selimut lebar untuk mengkrukupi kegiatan menyusuinya. Itu dengan catatan harus tersedia sebuah kursi kosong.
Seorang kawan yang tidak mendapatkan kursi kosong ketika mendadak ananda memberikan sinyal minta pertolongan pertama pada kehausan, segera menghentikan sejenak perjalanannya di stasiun terdekat. Dia keluar dan duduk di peron stasiun itu untuk menyusui sejenak sampai ananda puas. Pokoknya, pasokan ASI harus jalan terus di mana saja, kapanpun juga.

Mbak, saya termasuk orang yg cuek nyusuin di bus n MRT hehehe… si baby bisa ngumpet di balik jilbab;))
Comment by Lia — 25 July 2006 @ 13:19
Di China, kesadaran untuk menyusui dengan ASI cukup tinggi. Rumah-Rumah Sakit ataupun dokter sering memberi penyuluhan dan menyarankan ASI, seminimalnya 6 bulan pertama. di samping itu, bayi begitu lahir, setelah dibersihkan dan plasenta dipotong, langsung diupayakan untuk menyusui dari si ibu. selama masa inap, bayi juga diletakkan di samping tempat tidur si ibu supaya bisa menyusui kapan pun (bukan di kamar bayi seperti di banyak RS bersalin yang saya lihat di Jakarta).
Di kota Hefei, saya tidak pernah melihat (juga kurang memperhatikan) ada pusat perbelanjaan menyediakan ruang menyusui. namun di banyak airport di China, ada ruangan khusus untuk menyusui, di samping ada ruang tunggu untuk orang jompo dan ibu hamil. Toilet perempuan juga biasanya ada tempat mengganti popok bayi.
biasanya bisa saja dijumpai ibu2 menyusui di tempat umum, rumah makan, taman, asal ada tempat untuk duduk. mungkin kebanyakan sudah diatur agar waktu berpergian bukan pas waktu untuk menyusui.
kebetulan juga waktu tempuh dari satu ujung ke ujung kota lainnya biasanya paling lama sekitar 1 jam.
Peraturan Pemerintah di sini sangat mendukung program menyusui dengan ASI ini. Cuti melahirkan adalah 3 bulan, ditambah 1 bulan bila melahirkan di atas usia 24 tahun, ditambah lagi 1 bulan bila melahirkan anak tunggal, ditambah lagi 0.5 bulan bila lahir dengan operasi caesar. setelah masa cuti habis, tiap hari kerja mendapatkan 1 jam cuti untuk menyusui, jadi si ibu boleh datang lebih telat satu jam atau pulang lebih cepat 1 jam. tapi tentunya banyak juga perusahaan yang tidak menjalankan aturan ini. selain itu lagi, di kota seperti Tianjin, ada peraturan baru, si ibu boleh cuti di luar tanggungan sampai dengan satu tahun (5 bulan + 7 bulan).
b. rgds,
yenni (Hefei, P. R. China)
Comment by yendoel — 1 August 2006 @ 3:37