Bayi Merasa Tidak Nyaman dan Menolak Menyusu: Mengetahui Penyebabnya
26 January 2007Terima kasih banyak untuk rekan-rekan yang sudi membaca dan memperhatikan perkembangan tulisan di blog ASI ini. Mohon maaf karena lama tidak menulis di sini. Rani dan saya sempat ‘berkelana’ sejenak sejak akhir taun lalu sampai awal tahun ini. Kami doakan semoga rekan-rekan berhasil menyusui buah hati masing-masing dengan lancar.
Bayi anda mungkin merasa tidak nyaman ketika menyusu. Atau bahkan lebih parah lagi, menolak menyusu. Apa sebabnya? Sebisa mungkin kita harus mengetahui latar belakang ketidaknyamanan dan atau penolakannya. Hal ini akan membantu kita mencari penyelesaian masalah tersebut.
Bayi dengan infeksi telinga mungkin akan memerlukan perawatan medis sebelum bisa menyusu lagi dengan nyaman. Bayi yang ‘lasak’ ketika disodori payudara berhubung sifat bawaannya, kepekaan terhadap gangguan, atau sedang tumbuh giginya mungkin akan menyusu dengan lebih baik bila mereka diberi tindakan-tindakan yang membuat nyaman dan menyusu dalam suasana yang tenang.
Pada kasus-kasus lain, pengaturan pemberian ASI juga bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman bayi. Seperti contohnya, ibu dengan payudara bengkak mungkin akan merasa lebih baik [baik bayi maupun ibunya] bila ia menyusui bayinya lebih sering dan memeras sedikit susunya sebelum menyusukan bayinya.
Bayi yang ‘lasak’ karena kelebihan pasokan di payudara akan merasa lebih nyaman bila ibunya membiarkannya menghabiskan jatah dari satu payudara dulu sebelum memulai dengan payudara lain. Tapi tentu saja dengan catatan apabila ia masih ingin menyusu lagi. Bila sang ibu mempunyai pasokan ASI yang sangat-sangat berlebih [seperti Rani
], bayi akan jauh lebih baik bila dibatasi minum dari satu payudara saja untuk sekali menyusu atau lebih, sebelum berganti ke payudara lainnya.
Sementara itu untuk para ibu yang posisi menyusuinya masih kurang tepat, biasanya akan menjadi mulus pemberian ASI-nya bila tubuh bayi seluas mungkin menempel pada tubuh ibu dan mulutnya membuka lebih lebar sehingga dapat memasukkan puting lebih dalam ke mulut.
Seringkali masalah menyusui seperti ini memerlukan waktu yang lebih lama, kesabaran, dan pengetahuan tertentu untuk mengembalikan rasa nyaman ketika menyusui. Apalagi bila ada masalah seperti ketidakcocokan fisik antar ibu dan bayi: mulut kecil bayi dan puting besar ibu, lalu juga hisapan yang tidak efektif, alergi, masalah kepekaan syaraf, dan lainnya.
Tetapi di pihak lain, ternyata banyak kasus yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat dengan saran-saran umum dan tentunya dukungan moril yang baik. Kasus-kasus tersebut antara lain yang disebabkan oleh kemacetan aliran ASI, tekanan batin sang ibu, ketidaknyamanan bayi waktu dipeluk untuk diberi ASI, atau rasa sakit pasca persalinan.
Ketidaknyamanan bayi dan penolakannya untuk menyusu juga kadang terpicu oleh makanan yang dimakan ibu, obat, wewangian, dan lainnya. Untuk kasus ini, penyelidikan a la detektif dan beberapa percobaanlah yang harus kita lakukan untuk menentukan dengan pasti penyebabnya.
Bila hal-hal di atas bukan merupakan penyebabnya, maka satu saja penjelasannya: kasus yang langka di mana bayi mogok menyusu tanpa ada penjelasan. Hal yang tentunya sangat membuat bayi dan ibu sangat tertekan.
Penanganan pada waktu bersalin dan setelahnya seperti pemberian obat-obatan sebelum persalinan, hisapan alat sedot yang kuat pada bayi untuk pembersihan mulutnya setelah dilahirkan, serta pemisahan ibu dan bayi setelah persalinan mungkin juga membuat bayi merasa kurang nyaman waktu ditempelkan di payudara. Menurut beberapa penelitian, obat pemati rasa atau bius yang digunakan waktu bersalin dapat juga menyebabkan masalah pemberian ASI akibat adanya waktu tunda penyusuan perdana yang akhirnya membuat bayi kurang koordinasi gerak hisapnya.
[Catatan Hany:
Ini menjelaskan kenapa waktu saya hendak bersalin putri kedua dan memilih untuk memberi ASI saja, tidak ada pereda sakit pada waktu bersalin dan dokter TIDAK memberikan bius ketika menjahit sobekan pada vagina. Oh, rasanya memang luar biasa! Ketika saya mengeluhkan rasa sakit yang sangat itu, sang dokter dengan tenangnya sambil menjahit hanya berkata: Sakit betulannya sudah lewat, Buuuu…. Putri saya langsung menyusu setelah ia dibersihkan dengan penyedot dan saya selesai dijahit. Alhamdulillah. Tidak ada masalah sama sekali. Malah putri saya yang akhirnya menjadi pemati rasa sakit saya. Ponstan yang diberikan setelah saya dipindahkan ke ruang rawat inap tidak saya makan sama sekali.
Beda sekali dengan waktu bersalin putri pertama. Saya tidak ditanya oleh pihak rumah sakit, apakah akan ber-ASI atau tidak. Saya diberi BEBERAPA suntikan bius lokal sebelum sobekan saya dijahit. Saya seketika merasa melayang-layang. Putri saya juga langsung dibawa pergi ke ruang bayi setelah dibersihkan. Akhirnya saya baru bertemu putri saya beberapa jam setelahnya. Putri saya tidak langsung belajar menyusu, dan payudara saya bengkak serta saya demam. Menyiksa sekali.
Mengingat pengalaman di atas, saya sungguh menyarankan kepada para ibu yang bersalin alami untuk mengingatkan semua pihak bahwa bayi akan diberi ASI saja segera setelah dilahirkan, dan menolak bius ketika dijahit lukanya. Setelah itu, sesegera mungkin meminta bayi untuk dipeluk dan disusukan. Insya Allah bayi dan ibu akan segera belajar menyusu bersama.]
Ransjo-Arvidson [2001] menemukan bahwa beberapa jenis bius yang diberikan pada waktu persalinan berhubungan dengan lebih banyak tangisan bayi, kurang peka mencari payudara, dan hisapan yang lemah.
Nissen [1997] menemukan bahwa 100 mg Demerol yang diberikan menjelang persalinan berhubungan dengan tertundanya hisapan pada payudara.
Sepkoski [1992] menemukan bahwa bayi dari ibu yang memakai epidural menjadi kurang awas, kurang peka pada dirinya sendiri, dan gerakannya teraturnya lebih sedikit ketimbang bayi yang lahir dari ibu tanpa obat-obatan. Penelitian ini dilakukan terhadap bayi-bayi selama sebulan pertama kehidapan mereka.
Righard dan Alade [1990] menyimpulkan bahwa masalah hisapan pada payudara lebih sering ditemukan pada bayi-bayi yang ibunya memakai pethidine selama persalinan ketimbang pada ibu-ibu yang bersalin tanpa obat-obatan. Penyelidikan yang sama juga menemukan bahwa pemisahan bayi dan ibu pasca bersalin selama 20 menit saja sebelum penyusuan pertama juga akan menyebabkan masalah pada hisapan bayi pada penyusuan berikutnya. Ketidaknyamanan karena hal ini biasanya akan teratasi dalam beberapa hari atau mungkin juga akan makan waktu lebih lama.
Tidak semua hal yang disebutkan di atas akan membuat bayi merasa tidak nyaman waktu menyusu atau menolak menyusu. Sifat bayi yang unik, yang berbeda satu sama lain juga merupakan latar belakang kenapa reaksi yang terlihat akan satu hal yang sama bisa sangat berbeda. Contohnya, bayi A, B, C dengan infeksi telinga: bayi A bisa saja terus menyusu dengan nyaman, sementara bayi B sangat banyak bergerak ketika disodori payudara, dan bayi C menolak payudara sama sekali. Bayi D mungkin tidak punya masalah pada peralihan antara botol dan payudara [pada bayi dengan susu campur, atau ASI peras yang dimasukkan ke botol], sementara bayi E menolak payudara atau menghisap puting dengan tidak sempurna.
