Menyusui Selagi Hamil
17 June 2007Waktu itu Hanan baru saja merayakan ulang tahun pertamanya. Setelah beres-beres rumah, baru saya bertanya-tanya kenapa saya belum juga dikunjungi tamu bulanan. Padahal beberapa hari lalu sudah keluar bercak-bercak darah. Lha kok, sekarang malah tidak haid? Kenapa ini?
Apalagi mengingat riwayat 2 kehamilan saya yang selalu didahului oleh bercak darah yang parah, maka beberapa hari kemudian saya langsung minta dibelikan alat tes kehamilan di Watson pasar Hong Kah dekat rumah. Waktu itu sekitar maghrib, saya ke kamar mandi. Begitu alat tes dibasahi, tidak lama terlihat bahwa saya… resmi hamil lagi.
Ya Allah, bagaimana ini. Baru tepat satu tahun saya bermesra-mesra dengan putri pertama, 9 bulan lagi saya harus membagi perhatian saya. Tapi ya sudah, setelah kecamuk perasaan panik reda, saya malah bersyukur segera diberi kesempatan hamil lagi. Sudahlah, sekalian saja capeknya mumpung badan saya masih kuat. Demikian pikir saya. Lagipula, tambah ramai rumah, malah tambah asik.
Selanjutnya, ada pertanyaan besar yang harus saya jawab. Apakah karena hamil maka saya akan menghentikan ASI untuk Hanan? Secara naluriah saya akan menjawab tidak. Tapi bila sore datang, cucian piring menumpuk, setrikaan menggunung, dan belum ada sajian untuk makan malam, saya jadi berpikir:
Apakah tidak lebih baik kalau saya perkenalkan dan biasakan Hanan dengan susu botol dan mulai mencoba menyapihnya?
Ah, tapi kasihan sekali Hanan kalau dipaksa berpisah dari susu ibunya. Ya sudah, saya ikuti naluri saya saja. Teruskan ASI untuk Hanan. Apalagi Hanan juga termasuk golongan anak yang obat segala keresahan badan dan hatinya cuma satu, menyusu. Pada dasarnya saya memang takut Hanan akan sakit, tidak gemuk lagi, marah, mengamuk, resah, bila dipisahkan dari payudara saya.
Walau begitu saya masih bertanya-tanya apakah aman menyusui selagi hamil. Samar-samar saya ingat bahwa ada resiko kontraksi rahim waktu menyusu. Maka saya cari bacaan-bacaan yang bisa mendukung bahwa menyusui selagi hamil itu… AMAN.
Ini dia beberapa yang saya temukan:
1| Panduan dari LLLI
Breastfeeding During Pregnancy
I’m Pregnant and Still Nursing My Toddler–Must I Wean Now?
Finding out you are pregnant does not mean you must stop breastfeeding your toddler. Many mothers choose to continue breastfeeding throughout pregnancy, while others decide to wean. The following information may help you decide what is best for you and your family. etc…
2| Jawaban dari By Kathleen Huggins, registered nurse and lactation consultant
Is it safe to continue breastfeeding while pregnant?
Answer: In most cases, yes. Rarely is immediate weaning advisable or necessary. Typically there are two concerns when a mother becomes pregnant again: whether continued nursing will rob nutrients from the developing fetus and whether the baby’s sucking could stimulate contractions that lead to miscarriage or premature labor. etc…
3| Dari Berkeley Parents Network
4| http://www.drgreene.org/body.cfm?id=21&action=detail&ref=362
5| http://www.thebabycorner.com/page/208/
6| http://www.netdoctor.co.uk/ate/pregnancyandchildbirth/204693.html
7| http://www.babycentre.co.uk/baby/breastfeeding/breastfeedwhenpregexpert/
dan banyak lagi bacaan lain. Kesimpulannya, menyusui selagi hamil adalah aman. Tentu saya juga harus bisa mengukur sendiri apakah Hanan, adik bayi, dan saya tetap baik-baik saja selama kami bertiga melakukan hal ini.
Alhamdulillah, lewat USG tiap bulan, adik bayi di perut ukurannya normal saja. Artinya, malah mungkin yang harus diperhatikan gizinya adalah Hanan. Tapi anak 1 tahun tentu sudah siap ‘makan apa saja’. Maka saya juga tidak terlalu kuatir karena pasokan gizi Hanan bisa diperoleh dari makanan selain ASI.
Pada suatu hari, ba’da maghrib saya masih menyusui Hanan ketika kontraksi datang teratur. Saya hitung selama 30 menit, kekerapannya sekitar 10 menit sekali. Beberapa saat kemudian Hanan tertidur. Sembari menunggu suami saya menyelesaikan buka puasanya, kontraksi saya makin terasa.
Kami bergegas ke rumah sakit. Dan 1 jam kemudian lahirlah Haifa. Selesai dibersihkan, dan dibungkus, Haifa langsung disodorkan ke dada saya. Saya menyusui lagi. Tapi kali ini bukan Hanan. Perasaan yang aneh, mungkin agak mengecewakan karena payudara saya tidak membengkak besar seperti setelah melahirkan Hanan. Tapi beberapa menit kemudian saya mendadak gembira, karena dengan payudara yang tidak bengkak artinya saya tidak akan demam atau mengalami kesakitan lagi!
Oh, alhamdulillah. Ini mungkin hal yang paling indah dari menyusui selagi hamil. Saya harus berterima kasih pada Hanan karena dengan hisapannya payudara saya jadi sangat siap menyusui Haifa. Saya tidak perlu melewati masa-masa payudara bengkak dan puting lecet bahkan luka.
Sekitar 40 jam sejak masuk rumah sakit, saya pulang ke rumah. Hal yang saya takutkan terjadi. Hanan walaupun sangat gembira menyambut adik bayinya, mengamuk waktu sadar ketika tidak boleh menyusu lagi pada ibunya. Saya tahu bahwa menyusui 2 anak masih mungkin. Tapi saya benar-benar tidak kuat atau bisa jadi tidak cukup mampu mendorong diri saya sendiri untuk melakukannya.
Hanan umur 21 bulan menangis tiap malam selama 5 hari. Setelah itu baik-baik saja. Selamat tinggal ASI untuk Hanan, selamat datang ASI untuk Haifa.

My God!!, ceritanya inspiratif sekali, saya sampai terharu!!
Comment by dhira — 18 June 2007 @ 11:21
mba’, saya sedang mengalaminya skrg. Alisha baru berusia (6 bln 1/2), putri pertama saya. Sementara, kini saya sdg mengandung anak kembar dgn usia kehamilan 10 minggu. Sangat menjadi dilema bagi saya, krn dokter kandungan menyarankan utk menyetop ASI utk Alisha. skrg ini, ASI saya sudah agak berkurang. ya memang kesalahan saya yg tdk mampu makan untuk 4 org. Mohon sarannya mba’, apakah benar2 harus saya STOP, ASI utk Alisha… Tks
Comment by Yuni — 1 August 2007 @ 3:47
mba’,saya juga sedang mengalami hal kitu, anak saya sekarang 16 bln, sedangkan saya sekarang sedang hamil 7minggu. Sempet bingung juga sih bagaimana caranya menyapih anak pertama saya.
Dan makanan apa saja yang harus saya konsumsi dalah keadaan seperti ini?
Apakah saya harus meminum susu khusus ibu menyusui/untuk ibu hamil?
Comment by indira — 23 October 2007 @ 3:57
saya justru malah bingung, anak saya, Faiz usia 13 bulan tiba2 berhenti menyusu, semula saya pikir karena sariawan, tetapi setelah sariawan sembuh, dia tetap gak mau menyusu, setiap saya sodorkan payudara saya, dia akan berontak, dan jika asi saya peras, kemudian saya suapkan diapun minum sambil menangis.. terus terang sedih, dan bertanya kenapa dengan asinya.
Setelah saya tes kehamilan (karena memang saya dah 3 minggu telat) ternyata positif. Perasaan bingung seperti yang dialami cerita diatas membuat saya hanya diam di kamar mandi.
Sedih tapi senang.. Sedih karena belum puas bermesraan dengan Faiz, senang karena Faiz mau ada temennya.
Yang lebih menyesakkan lagi, ketika di depan rak susu bayi di supermarket, harga susu yang tidak mengandung susu sapi cukup besar bagi kami (karena faiz alergi susu sapi, pernah dicobain soale dan dia diare) .
Saat ini masih mencoba menyemangati diri, menerima segala keputusan-Nya dan tetap berdoa mohon kesehatan buat Faiz dan dede’nya.
Comment by dwieq — 3 December 2007 @ 7:27
saya juga pernah mengalami dilema yang sangat berat, ketika hasna berusia 2 bulan saya telat haid selama satu minggu. gejala yang saya alami seperti hamil. setiap kali melihat hasna saya sangat sedih karena kalau saya benar hamil yang terbayang anak saya tidak bisa lagi menyusui, karena yang saya tahu ketika hamil tidak boleh sambil menyusui. saya sempat stress sampai tidak berani untuk melakukan tes kehamilan. saya coba minum jamu terlambat haid tapi tetap tidak keluar juga. dalam hati terbersit rasa berdosa melakukan hal itu karena kalau benar saya hamil berarti saya telah mencoba menggugurkannya. akhirnya setelah telat 3 minggu, dengan kebesaran hati dan hanya pasrah kepada Alloh saya beli testpack dan keesokan harinya saya coba tes dan alhamdulillah hasilnya negatif. bukannya saya menolak rejeki diberi anugrah anak namun saya merasa belum siap jika harus memberi adik kepada anak saya yang kini berusia 4 bulan. namun saya dan suami telah merencanakan ingin mempunyai banyak anak tetapi dengan jarak yang tidak terlalu jauh, 2 atau 3 tahun. semoga Alloh selalu memberi kemudahan dan kesehatan kepada kami, amin.
Comment by umi hasna — 9 January 2008 @ 6:41
trims ya mbak.saya terharu sekali karena selama ini banyak yang mebuat saya discourage untuk tetap menyusui anak saya yang berumur 1 tahun pada kehamilan yang kedua ini.i’ll keep on breast feeding my toddler!
Comment by lia — 23 January 2008 @ 4:33
saya ibu 2 putri yg semuanya melalui operasi,adila 4th ASI saya tdk keluar,fathma baru maret ini 1th sampai skrg masih menyusui,skrg saya sudah positif hamil (blm tau pasti hamil berapa minggu) saya bingung sekali apa yg lebih baik saya lakukan,tetap menyusui fathma atau berhenti menyusui?banyak yg bilang kalau hamil otomatis fathma akan berhenti menyusui tapi sampai skrg dia masih minum ASI,bkny saya tdk mau menyusui justru saya senang tapi banyak yg menberi saran pada saya lebih baik berhenti dan mulau disapih,apa yg lebih baik saya lakukan dan tentunya yg terbaik buat fathma,adak yg masih dlm kadungan dan juga buat saya sendiri?
Comment by oemar — 21 April 2008 @ 2:21
saya ibu dari 2 anak. dari awal menikah, saya dan suami sudah merencakan akan segera memiliki beberapa anak dengan jarak yang tidak terlalu jauh. begitu anak pertama saya sudah bisa berjalan (13 bulan), sudah mulai masuk program pembuatan anak kedua.
alhamdulillah saya hamil lagi ketika anak pertama berusia 18 bulan. program saya adalah pemberian asi sampai anak-anak saya berusia 2 tahun. alhamdulillah, ketika hamil saya tetap bisa menyusui anak pertama saya. meski saya tetap memberikan susu lain, susu uht, untuk tambahan susunya.
setelah usia anak saya 2 tahun, ketika saya hamil 6 bulan, saya sapih. alhamdulillah, proses sapihnya mudah. karena berusia 2 tahun, dia sudah mengerti akan punya adik. saya ajak dia diskusi ringan dan beri pengertian kalau dia sudah besar dan akan punya adik, maka harus berbagi asi dengan adiknya. maka, sejak itu dia tidak lagi minum asi. selepas itu saya pernah susui ketika dia sakit. tapi, setelah itu benar-benar lepas asi.
ya, sebenarnya selama tidak ada masalah kehamilan dan kita sebagai ibu juga menjaga pola hidup, insya Allah tidak ada hambatan untuk menyusui ketika hamil. tapi, kalau ibu dan suami memutuskan untuk menyapih anak karena hamil, buatlah keputusan dengan baik. karena menyapih anak juga pasti ada pertimbangannya.
ya, memang jadi ibu harus sabar. namanya juga belajar jadi ibu yang baik. betul, ga, bu?
Comment by Fina Martiningtyas — 10 May 2008 @ 6:12